Wanita Mustahadhah
Ibnu Manzhur memberikan makna bahwa istihadhah merupakan pecahan kata dari haidh, yaitu darah yang keluar terus-menerus dari wanita setelah masa haidnya (lisanu al-Arab 7/142). Secara istilah syar'I darah istihadhah adalah darah yang keluar terus-menerus bukan pada masa haidh atau nifas atau setelah (bersambung) dengan keduanya. Istihadhah merupakan darah penyakit disebabkan urat yang terputus (lihat Fiqh al-Sunnah 1/216).
Dalam beberapa tulisan, para ahli membedakan antara darah haidh dan istihadhah antara lain :
- Darah haid warnanya merah pekat, kental, dan baunya tidak enak. Sedangkan darah Istihadhah warnanya merah, tidak kental, dan tidak berbau.
- Darah haidh keluar dari rahim. Darah istihadhah keluar dari mulut rahim
- Haidh adalah darah sehat yang keluar pada waktu-waktu tertentu. Istihadhah adalah darah penyakit yang bias keluar sewaktu-waktu, tidak ruthin pada waktu tertentu.
- Darah haid tidak beku, sebab darah haid pada mulanya sudah beku didalam rahim, kemudian pecah dan mengalir. Darah istihadhah bias beku, istihadhah adalah penyakit karena urat yang erputus (lihat Majalah Al-Furqon edisi 1 th II)
Wanita yang istihadhah tidak seperti saat datang haidh. Ia harus tetap melaksanakan shalat dan shiyam. Dan setiap mau malksanakan shalat dibersihkan, kemudian jika wudhu jika belum punya wudhu dan shalat. Dan tidak wajib mandi saat mau shalat. (lihat Fathu al-Baari 1/427). Wanita istihadhah juga boleh berkumpul dengan suaminya dan boleh beri'tikaf dimasjid dan shalat.
Nabi saw pernah melakukan I'tikaf bersama salah seorang istrinya, padahal istrinya seseorang yang melihat darah dan cairan kekuningan (mustahadhah), ember kecil selalu dibawanya dan dia dalam keadaan shalat. (HR. Bukhari 310)
Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathu al-Baari 1/412) mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya wanita mustahadhah (yang istihadhah) berdiam diri dimasjid. I'tikaf dan shalatnya sah. Allohu A'lam
0 komentar:
Posting Komentar